Oleh : Eugenius Mario Tfuakan
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang.
Kita selalu merasa senang atas pembangunan daerah baru, lahan baru, megahnya kantor-kantor dan ramainya kota sebagai ungkapan bahwa negara kita sedang bergerak maju dan sejahtera. Namun, pernahkah kita bertanya, siapa yang membayar semua itu? Apakah kemajuan yang ada, tidak menimbulkan kerusakan bagi alam?
Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk direnungkan, karena setiap pembangunan yang terjadi selalu membutuhkan sumber daya alam. Jika tidak dikelola dengan bijaksana, maka akan menimbulkan konsekuensi ekologis yang serius. Kekeringan, sungai yang tercemar, banjir dan longsor merupakan persoalan yang muncul apabila pembangunan hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi tanpa adanya rasa cinta akan lingkungan.
Kemajuan memang terus berkembang, namun di sisi lain hal ini menciptakan luka yang semakin membesar. Karena itu, kemajuan seharusnya tidak diukur dari megahnya bangunan, banyaknya lahan baru atau pesatnya pertumbuhan kota, tetapi juga harus diukur dari kemampuan manusia dalam menjaga keseimbangan ekologis yang menopang kehidupan.
Persoalan ini tidak lepas dari cara kita melihat alam. Hutan dijaga dan dilindungi sejauh ia memberikan manfaat bagi manusia. Jika alam tidak membawa keuntungan, maka alam dieksploitasi. Inilah yang terlihat hari-hari ini. Kita hanya merawat pepohonan yang berguna, sedangkan yang tidak berguna dan bermanfaat dimusnahkan. Pandangan inilah yang ada di dalam benak para pejabat kita. Mereka membiarkan hutan terbakar dan digunduli, sebab bagi mereka sawit lebih berharga daripada tumbuhan lainnya. Ini adalah cara pandang yang salah, sebuah cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat tetapi alam hanya sebagai pemenuh kebutuhan saja.
Pandangan inilah yang mengakibatkan tanah, air, hutan dan kekayaan hayati lainya dimanfaatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa mempertimbangkan batas-batas ekologisnya. Eksploitasi dilihat sebagai sesuatu yang wajar selama menghasilkan keuntungan dan membantu pembangunan. Padahal, alam memiliki nilainya sendiri. Selain itu, alam memiliki keterikatan jaringan dan keseimbangan ekosistem, sehingga jika salah satu rusak, maka yang lainnya akan ikut terpengaruh termasuk juga manusia.
Oleh karena itu, cara pandang kita harus diubah. Kita harus memandang, bahwa alam mempunyai ‘martabat’ yang harus dilindungi bukannya dieksploitasi. Hubungan kita dengan alam harus dibangun di atas dasar tetap menjaga keseimbangan alam. Jika tidak, kitalah yang akan menderita. Kita lihat saja, di seluruh Indonesia, khususnya di NTT, kawasan hutan sudah mulai hilang karena banyaknya pembangunan. Jika dibiarkan terus menerus, maka kekeringan, banjir, longsor dan kekurangan air bersih akan terus meningkat.
Demikian juga, kebakaran yang terjadi di Kalimantan tidak hanya merusak ekosistem tetapi membawa kematian bagi manusia. Sementara itu, penggundulan yang dilakukan di Papua menghilangkan banyak habitat satwa liar, merusak keanekaragam hayati, merusak budaya setempat serta menghilangakn sumber kehidupan yang selama ini menopang mereka. Dari sini bisa dilihat, bahwa kerusakan alam bukan sekadar berkurangnya pohon, air, binatang dan hutan, melainkan juga menyangkut keberlangsungan hidup manusia dan alam. Dalam konteks inilah, etika lingkungan menjadi landasan penting untuk membentuk kesadaran dan tanggung jawab kita terhadap alam. Di dalamnya kita tidak hanya diajar untuk menggunakan lingkungan dengan tepat, tetapi juga diajar untuk melihat alam sebagai saudara yang harus dihormati dan dilindungi.
Etika ini mendorong kita untuk menilai perilaku kita serta meningkatkan kesadaran etis bahwa pembangunan tidak semata-mata didasarkan pada keuntungan ekonomi tetapi juga pada pertimbangan mengenai kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Sudah saatnya kita menggugat kemajuan itu sendiri. Apakah pantas disebut maju jika kekayaan kian bertambah namun bumi yang menopang kita semakin terluka dan rapuh? Sanggupkah kita memandang alam sebagai sesama penghuni rumah, bukan sekadar bahan untuk dihabiskan? Selama jawabannya belum berubah, setiap kemajuan yang kita banggakan akan terus berdarah. (*)


