Jangan Asal Minum Obat! Apoteker Kunci Edukasi Penggunaan Obat yang Aman dan Tepat

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kota Kupang, Dokter Joanita Tukan.

KUPANG, media-ntt.com – Pelayanan kefarmasian di apotek tidak hanya sebatas menyerahkan obat kepada masyarakat, tetapi juga mencakup pemberian informasi mengenai penggunaan obat yang aman dan tepat. Konsultasi dengan apoteker menjadi penting, terutama bagi masyarakat yang melakukan swamedikasi atau pengobatan mandiri untuk mengatasi keluhan ringan hingga pasien yang menggunakan obat secara rutin untuk penyakit kronis.

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kota Kupang, Dokter Joanita Tukan menjelaskan, apoteker dapat membantu merekomendasikan obat bebas atau obat bebas terbatas yang sesuai untuk keluhan ringan, seperti batuk dan pilek. Namun, pemilihan obat tetap perlu mempertimbangkan kondisi pengguna, gejala yang dialami, serta keamanan penggunaannya.

“Dalam praktiknya, pemberian informasi obat masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya keterbatasan waktu dan jumlah tenaga kefarmasian di apotek. Kondisi tersebut dapat membuat penjelasan mengenai aturan pakai, manfaat, efek samping,” katanya di RRI Kupang, Jumat (9/10/2026).

Dokter Joanita menilai, keterbatasan waktu tidak hanya berasal dari tenaga kefarmasian, tetapi juga dari pasien yang terkadang terburu-buru saat menerima obat. “Jadi cuman, Beta sudah tahu cara minumnya,’ misalnya begitu. Jadi memang waktu ini menjadi hal yang penting, baik bagi apoteker maupun yang menggunakan obat, agar informasi yang diberikan itu utuh,” ujarnya.

Informasi yang lengkap sangat diperlukan, terutama bagi pasien yang menggunakan obat untuk penyakit kronis dan harus menjalani pengobatan dalam jangka panjang. Di tengah perkembangan era digital, masyarakat juga memiliki akses yang luas terhadap informasi kesehatan dan penggunaan obat.

“Pada saat pembelian obat, masyarakat juga bisa bertanya, ‘Kak, Beta kalau minum obat ini nanti beta bisa begini, ko?’ Nah, sebagai pemberi layanan kefarmasian, dalam hal ini apoteker, tentu akan menjelaskan dengan baik,” katanya.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak ragu berkonsultasi dengan apoteker ketika membeli atau menggunakan obat, termasuk menanyakan manfaat, aturan pakai, efek samping, dan kemungkinan interaksi dengan obat lain. Pemanfaatan informasi digital perlu dilakukan secara bijak dengan mengutamakan sumber tepercaya, sedangkan keputusan penggunaan obat sebaiknya tetap mengikuti petunjuk tenaga kesehatan yang berwenang. (*)

Demokrat NTT Apresiasi Perjuangan Finalis Lomba Pidato AHY Muda, Leo Lelo: Ini Bukan Cuma Soal Juara

KUPANG – Tidak semua perjuangan berakhir dengan piala. Tetapi setiap keberanian untuk tampil, menyampaikan gagasan, dan bersaing secara terhormat, layak mendapatkan penghargaan.

Semangat itulah yang melandasi Fraksi Partai Demokrat DPRD NTT ketika memberikan apresiasi kepada seluruh finalis Lomba Pidato AHY Muda 2026 beserta para guru pendamping, Kamis (8/10/2026), di Ruang Fraksi Demokrat DPRD NTT.

Prestasi Previ Seltriani Taek, siswi SMKN 4 Kota Kupang, yang berhasil meraih Juara III tingkat nasional, menjadi puncak kebanggaan. Namun, bagi Demokrat NTT, keberhasilan itu bukan alasan untuk melupakan perjuangan finalis lainnya.

Sebuah kompetisi boleh menghasilkan beberapa juara, tetapi prosesnya harus mampu melahirkan lebih banyak anak muda yang percaya diri, berpikir kritis, dan berani menyuarakan gagasan.

Pesan tersebut mengemuka dalam pertemuan yang dipimpin Ketua DPD Partai Demokrat NTT sekaligus Ketua Fraksi Demokrat DPRD NTT, Leonardus Lelo, bersama para finalis dan guru pendamping.

“Kita tentu bersyukur dan bangga karena salah satu finalis dari NTT, Previ Seltriani Taek, berhasil melangkah hingga meraih Juara III tingkat nasional,” katanya. Namun, Leo mengingatkan, capaian tersebut merupakan bagian dari perjalanan bersama seluruh finalis.

“Mereka yang berani tampil, berjuang, menyampaikan gagasan dan menyelesaikan seluruh proses juga layak mendapatkan penghargaan,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi penting karena kompetisi pidato itu sesungguhnya bukan untuk mencari pemenang. Tapi bagaimana generasi muda membaca persoalan bangsa dan menawarkan gagasan untuk masa depan.

Dari ruang kompetisi itu pula terlihat bahwa NTT tidak kekurangan anak muda yang mampu berbicara tentang persoalan publik. Yang sering menjadi persoalan bukan semata kemampuan mereka, melainkan seberapa jauh ruang diberikan kepada generasi muda untuk menguji gagasan, membangun keberanian, dan tampil dalam forum yang lebih luas. Keberhasilan Previ di tingkat nasional memperlihatkan bahwa ketika ruang tersebut tersedia, anak-anak muda NTT mampu bersaing.

Sebagai bentuk apresiasi, Fraksi Partai Demokrat menyerahkan piagam penghargaan kepada seluruh finalis, juga apresiasi sederhana sebagai ungkapan terima kasih atas partisipasi mereka.

Bagi Fraksi Demokrat, penghargaan itu tidak semata-mata berkaitan dengan hasil akhir perlombaan. Ada nilai yang lebih penting: keberanian untuk keluar dari zona nyaman, berdiri di depan publik, menyampaikan gagasan, dan menyelesaikan seluruh tahapan kompetisi.

Semangat tersebut juga disampaikan Sekretaris Fraksi Demokrat yang juga Anggota Komisi IV DPRD NTT, Reni Marlina Un, bersama Simon Guido Seran dan Odylia Selati Kabba.

Mereka bangga atas capaian Previ yang mampu membawa nama NTT hingga peringkat ketiga tingkat nasional.

“Ini sesuatu yang luar biasa. Kerja keras dari adik-adik semua dan para guru pembimbing membuktikan bahwa anak muda NTT punya potensi dan dapat diandalkan di tingkat nasional,” begitu inti apresiasi mereka.

Terima Kasih Demokrat

Sementara itu, Kepala SMKN 4 Kota Kupang, Semy Ndoen, yang mendampingi Previ Seltriani Taek menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Partai Demokrat NTT yang telah memberikan ruang bagi para pelajar untuk berkompetisi dan mengembangkan kemampuan.

Menurut dia, dalam beberapa bulan terakhir nama SMKN 4 Kota Kupang ikut dikenal lebih luas di tingkat nasional setelah salah satu peserta didiknya berhasil meraih penghargaan dalam kompetisi tersebut.

“Atas nama keluarga besar SMKN 4 Kota Kupang, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada keluarga besar Partai Demokrat NTT,” katanya.

Menurut dia, kesempatan mengikuti lomba tersebut menjadi pengalaman penting bagi peserta didik. Bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi karena proses kompetisi telah memberi ruang bagi siswa untuk membangun kepercayaan diri, keberanian berbicara, sekaligus mengasah kemampuan menyampaikan gagasan.

Lomba tersebut digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT ke-25 Partai Demokrat. Capaian Previ tidak sekadar angka dalam daftar pemenang. Ia menjadi semacam penanda bahwa potensi anak muda NTT tidak berhenti pada ruang-ruang sekolah atau panggung lokal.

Ketika diberi kesempatan dan dipersiapkan dengan baik, mereka mampu membawa gagasan dari daerah hingga panggung nasional. (hermen jawa)

Perkuat Keamanan Cyber, PLN Pastikan Layanan Listrik di Pulau Timor Tetap Optimal

Tim PLN UP2B NTT bersama PT Sinergy Informasi Pratama melakukan penguatan sistem keamanan PAM OT.

KUPANG, media-ntt.com – PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengatur Beban Nusa Tenggara Timur (PLN UP2B NTT) terus berkomitmen meningkatkan keandalan sistem kelistrikan di Pulau Timor. Seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan listrik, PLN menerapkan sistem keamanan Privileged Access Management Operational Technology (PAM OT) guna melindungi sistem operasional dari potensi akses tanpa izin.

Langkah strategis ini diwujudkan melalui kerja sama dengan PT Sinergy Informasi Pratama. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat benteng pertahanan digital yang digunakan PLN dalam memantau dan mengatur penyaluran tenaga listrik secara real-time.

Sistem PAM OT bekerja secara terpusat untuk mengatur hak akses operasional. Hanya petugas berwenang dan memiliki izin resmi yang dapat mengakses sistem pengatur kelistrikan. Selain membatasi akses, sistem ini secara otomatis mengamankan kata sandi dan mencatat setiap riwayat aktivitas pengguna, sehingga memudahkan penelusuran serta mitigasi risiko keamanan sejak dini.

Beberapa manfaat utama dari penerapan PAM OT meliputi:

Pertama, Pengaturan Akses Terkontrol: Menjamin hanya personel berwenang yang dapat mengoperasikan sistem.

Kedua, Perlindungan Data dan Sandi : Mencegah penyalahgunaan informasi penting dan kredensial sistem.

Ketiga, Akuntabilitas dan Audit Trail: Mencatat setiap aktivitas pengguna secara rinci untuk memudahkan penelusuran.

Keempat, Mitigasi Risiko Cyber : Meminimalisir potensi gangguan operasional akibat akses ilegal.

Penguatan keamanan digital ini juga menjadi momentum dalam memaknai semangat Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober. Bagi PLN, nilai-nilai Pancasila diwujudkan nyata melalui tanggung jawab moral menjaga keberlangsung pelayanan publik dan memastikan kebutuhan listrik masyarakat senantiasa terpenuhi.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (UIW NTT), F. Eko Sulistyono, menegaskan, keandalan pasokan listrik berkaitan erat dengan kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat.

“Momentum Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan kita akan pentingnya persatuan, tanggung jawab, dan ketahanan dalam mengemban tugas. Bagi PLN, semangat tersebut diwujudkan dengan menjaga sistem kelistrikan tetap aman dan handal, sehingga listrik dapat terus menyokong roda ekonomi, fasilitas umum, serta aktivitas harian masyarakat di Nusa Tenggara Timur,” ujar Eko.

Eko menambahkan, modernisasi teknologi kelistrikan harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia dan keamanan sistem pendukungnya.

“Keandalan listrik bukan hanya tentang bagaimana daya disalurkan, tetapi juga bagaimana seluruh sistem pendukungnya dijaga dengan disiplin dan teknologi terbaik,” tambahnya.

Sementara itu, Site Manager PT Sinergy Informasi Pratama, Irfan Alamsyah, menyampaikan komitmen penuhnya dalam mendukung keandalan sistem digital PLN.

“Melalui sistem keamanan yang terintegrasi dan terpusat, setiap akses dapat dipantau secara presisi. Hal ini memastikan operasional kelistrikan PLN tetap terlindungi dan berjalan optimal,” kata Irfan.

Manager PLN UP2B NTT, Resa Rediansyah, menambahkan, penerapan PAM OT merupakan langkah preventif yang sangat krusial dalam menjaga kelancaran pasokan listrik di Pulau Timor.

“Sistem pengatur beban listrik adalah jantung dari operasional kelistrikan. Keamanan sistem digital ini berdampak langsung pada kualitas pelayanan kepada masyarakat, fasilitas publik, dan pusat-pusat kegiatan ekonomi. Dengan sistem yang aman, operasional dapat berjalan lancar tanpa gangguan,” jelas Resa.

Melalui penerapan PAM OT dan kesiapan teknologi yang terus diperbarui, PLN UP2B NTT menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan listrik yang tidak hanya andal, tetapi juga aman dan tepercaya bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur. (*)

Dosen FK Undana Edukasi Hidroponik untuk Cegah Stunting di Puskesmas Sikumana

Tim Dosen dari Fakultas Kedokteran Undana edukasi Hidroponik untuk cegah Stunting.

KUPANG, media-ntt.com – Tim dosen Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Universitas Nusa Cendana (Undana), menghadirkan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) terpadu untuk mendukung pencegahan stunting di Kota Kupang. PKM ini diawali dengan edukasi dan pelatihan Hidroponik untuk mencegah stunting di Puskesmas Sikumana.

Menariknya, program ini menggabungkan pemeriksaan kehamilan menggunakan ultrasonografi (USG) oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan dengan pelatihan budidaya sayuran melalui hidroponik sederhana di tingkat rumah tangga.

Melalui pendekatan tersebut, tim Undana berupaya memperkuat pencegahan stunting sejak masa kehamilan sekaligus meningkatkan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan bergizi secara mandiri.

Program yang dipimpin dr. Regina M. Hutasoit, M.Kes., ini melibatkan Rahel Rara Woda, S.Si., MKM, dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Gottfrieda P. Taeng-Ob Adang, SpOG, serta dr. Redemptus.

Sebanyak 50 peserta dari kelompok masyarakat rentan dilibatkan dalam kegiatan ini. Mereka terdiri atas 10 ibu hamil yang memperoleh pemantauan janin lanjutan dan 40 ibu yang merawat balita terindikasi stunting.

Inisiatif tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan mengintegrasikan keahlian kedokteran dan kesehatan masyarakat untuk menjawab persoalan kesehatan keluarga.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan intervensi medis di Rumah Sakit Umum (RSU) Undana pada Sabtu (19/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 10 ibu hamil mendapatkan pemeriksaan USG komprehensif secara gratis oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Pemeriksaan ini bertujuan memantau perkembangan janin, mengukur parameter pertumbuhan, serta mengidentifikasi kemungkinan gangguan pertumbuhan janin di dalam kandungan atau Intrauterine Growth Restriction (IUGR).

Deteksi dini diperlukan agar ibu hamil yang memiliki faktor risiko dapat memperoleh evaluasi dan penanganan medis sesuai kondisi kehamilannya.

Ketua Tim PKM FKKH Undana, dr. Regina M. Hutasoit, menjelaskan, upaya pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan melalui pemantauan kesehatan ibu dan janin serta pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai.

“Pencegahan stunting harus menjadi gerakan proaktif sejak masa kehamilan. Melalui pemeriksaan USG spesialis ini, kami memastikan para ibu memahami perkembangan janinnya secara rinci sekaligus membekali mereka dengan pengetahuan asupan gizi esensial hingga masa persalinan,” ungkap Regina.

Ia menekankan pentingnya kesinambungan pelayanan kesehatan sejak kehamilan hingga persalinan dan masa awal kehidupan anak.

Dengan pemantauan yang tepat, risiko gangguan pertumbuhan dapat dikenali lebih awal sehingga langkah medis dan edukasi kesehatan dapat diberikan sesuai kebutuhan.

Selain intervensi medis, tim PKM FKKH Undana memperkuat upaya pencegahan stunting melalui pemberdayaan keluarga di bidang ketahanan pangan.

Kegiatan edukasi dan pelatihan hidroponik dilaksanakan di Puskesmas Sikumana pada Rabu (30/9/2026), dengan melibatkan 40 ibu yang memiliki balita terindikasi stunting.

Para peserta mendapatkan pelatihan praktis mengenai budidaya tanaman pangan menggunakan metode hidroponik sederhana. Teknik ini dirancang agar dapat diterapkan di lingkungan rumah dengan memanfaatkan barang daur ulang dan bahan yang relatif mudah diperoleh.

Melalui pelatihan tersebut, keluarga diharapkan mampu menanam sayuran segar secara mandiri untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan bergizi sehari-hari.

Upaya ini juga ditujukan mengurangi ketergantungan pada pembelian sayuran, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Untuk mendukung penerapan keterampilan setelah pelatihan, tim PKM FKKH Undana menyerahkan paket starter kit hidroponik kepada seluruh peserta.

Paket tersebut mencakup benih tanaman, media tanam, dan nutrisi pupuk yang dapat digunakan untuk memulai budidaya di rumah masing-masing.

Bantuan itu diharapkan menjadi langkah awal agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan budidaya hidroponik secara berkelanjutan.

Program PKM FKKH Undana menggabungkan dua pendekatan yang saling melengkapi dalam pencegahan stunting, yakni pemantauan kesehatan ibu dan janin serta penguatan akses keluarga terhadap pangan bergizi.

Pemeriksaan kehamilan berperan dalam mendeteksi risiko gangguan pertumbuhan janin, sedangkan pelatihan hidroponik memberikan keterampilan praktis bagi keluarga untuk menyediakan sayuran secara mandiri.

Meski demikian, pencegahan dan penanganan stunting memerlukan upaya yang lebih luas. Pemenuhan gizi seimbang, pemantauan pertumbuhan anak, pemberian layanan kesehatan, sanitasi yang baik, serta pendampingan keluarga tetap menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Karena itu, keterlibatan perguruan tinggi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat kesinambungan program di tingkat keluarga.

Melalui kegiatan ini, Undana menunjukkan kontribusi perguruan tinggi dalam menerapkan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat secara langsung.

Program tersebut diharapkan dapat mendukung upaya penurunan stunting di Kota Kupang sekaligus meningkatkan kesadaran keluarga tentang pentingnya kesehatan ibu, pertumbuhan anak, dan ketahanan pangan rumah tangga. (*)

Cetak Lulusan Berstandar Internasional, Gubernur Melki Dorong 535 Lulusan Politani Kembali ke Desa

KUPANG, media-ntt.com – Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, mendorong 535 lulusan Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang untuk tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi berani menjadi entrepreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja dan kembali ke desa untuk mengembangkan potensi ekonomi desa.

Demikian disampaikan Gubernur saat menghadiri Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Wisuda Sarjana Terapan dan Ahli Madya Politani Kupang Periode Oktober 2026, di Student Center Politani Kupang, Kamis (8/10/2026).

Menurutnya, lulusan Politani memiliki peran strategis dalam mengolah kekayaan alam NTT, khususnya sektor pertanian dan perkebunan. Pendidikan di Politani tidak hanya membekali pengetahuan, tetapi juga keterampilan, kemandirian dan mental untuk mengembangkan potensi daerah.

“Di sinilah peran strategis dari para lulusan Politani Kupang, sarjana terapan dan ahli madya, untuk juga bisa mengolah potensi NTT dengan baik, dan juga bisa menjadi sumber penghidupan baru,” kata Gubernur.

Gubernur juga mengapresiasi pengembangan jejaring pendidikan internasional Politani, termasuk program Join Degree dengan Jiangsu Agri-Animal Husbandry Vocational College, China. Dari 535 lulusan, sebanyak 526 merupakan lulusan Politani Kupang, sementara 9 lainnya merupakan lulusan program kerja sama tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa Politani sekarang berstandar internasional,” tegasnya.

Gubernur meminta sembilan lulusan yang telah mengikuti pendidikan di China untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh kepada civitas akademika Politani. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat inovasi pertanian dan pengembangan pendidikan di NTT.

“Yang bersembilan ini tolong nanti sharing betul pengalaman di China sehingga bisa menjadi inspirasi bagi kita di NTT,” ujarnya.

Dalam pembangunan ekonomi daerah, Gubernur menekankan pentingnya ketahanan pangan, inovasi pertanian dan hilirisasi produk lokal. Ia menargetkan setiap kabupaten memiliki sedikitnya tiga hingga lima hasil hilirisasi yang kuat serta mendorong lahirnya industri baru berbasis potensi daerah.

“Harus ada industri baru di NTT, sehingga dia bisa menjadi lokomotif yang menarik gerbong dari rantai bisnis perkembangan ekonomi NTT, termasuk di sektor pertanian dan perkebunan,” tegasnya.

Untuk mendukung agenda tersebut, Gubernur mengajak lulusan Politani, khususnya yang berasal dari desa, untuk kembali ke kampung halaman dan mengembangkan potensi lokal. Desa, menurutnya, harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan mengoptimalkan keunggulan masing-masing wilayah.

“Saya berharap lulusan Politani ini, bisa kembali nanti ke desa, bisa kemudian mengembangkan potensi desa, agar nanti desa itu betul-betul menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru di NTT,” katanya.

Gubernur Melki mengingatkan para wisudawan agar tidak terpaku pada pilihan menjadi ASN karena peluang ekonomi terbuka luas di berbagai wilayah NTT. Ia mendorong lulusan Politani berani mengembangkan usaha sesuai kompetensi dan potensi daerah.

“Lihat mana yang bisa dikelola sebagai seorang lulusan Politani, sesuai dengan apa yang bisa dilakukan, kerjakan,” pesannya.

Sebagai dukungan konkret, Gubernur meminta Bank NTT memberikan pendampingan kepada lulusan yang ingin berwirausaha, termasuk melalui akses Kredit Usaha Rakyat (KUR). Para lulusan diminta menyiapkan proposal bisnis, baik secara individu maupun kelompok.

“Mudah-mudahan nanti dari 535,
10 persen saja jadi wirausahawan/wiraswasta di bidang pertanian perkebunan, luar biasa. Nanti perbankan kita suruh topang,” ujarnya.

Menutup arahannya, Gubernur menyampaikan apresiasi kepada orang tua, dosen, tenaga pendidik, Senat dan seluruh sivitas akademika Politani Kupang. Ia mengajak para lulusan melangkah optimistis, menjaga nama baik almamater dan menjadi bagian dari kemajuan NTT serta Indonesia.

“Teruslah melangkah dengan penuh optimisme, jaga nama baik almamater, dan buktikan bahwa cendekiawan muda NTT adalah tulang punggung kemajuan Indonesia, tulang punggung kemajuan Flobamorata,” tegasnya. (*/jdz)

Gubernur NTT Tegaskan Potensi Rp70 Triliun di Lembata dan Flotim Harus Kembali ke Masyarakat

LEWOLEBA, media-ntt.com – Kekayaan laut Lembata selama ini lebih banyak berhenti sebagai komoditas mentah. Tuna, tongkol, dan cakalang ditangkap, dijual segar, kemudian bergerak keluar daerah. Nilai tambah terbesar justru berpotensi tercipta di tempat lain.

Pola tersebut ingin diubah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui pengembangan ekonomi kreatif dan hilirisasi produk lokal. Pesannya sederhana: masyarakat tidak cukup hanya menjadi penghasil bahan baku, tetapi harus ikut menikmati nilai ekonomi dari proses pengolahan hingga pemasaran.

Penegasan itu disampaikan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam amanat yang dibacakan Plt. Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Lembata Apolonaris Mayan saat membuka Bimbingan Teknis Pengembangan Produk Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata di Aula Hotel Olympic Lewoleba, Rabu, 7 Oktober 2026.

Terkait kondisi Flores saat ini, Gubernur turut prihatin dan terus memantau. Ia tak lupa menyampaikan belasungkawa kepada masyarakat dan keluarga korban terdampak gempa bumi Flores. Gubernur mengajak seluruh pihak memperkuat solidaritas dan membantu masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana tersebut.

Bimtek ini sendiri diagendakan berlangsung selama tiga hari, 7 – 9 Oktober 2026, dengan 30 peserta yang seluruhnya perempuan dan remaja putri, yang merupakan pelaku usaha terpilih dari sejumlah kecamatan di Lembata.

Menurut Gubernur Melki, kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda Dasa Cita Pemerintah Provinsi NTT, khususnya gerakan “Dari Ladang dan Laut ke Pasar: Efisien, Modern dan Aman.”

Agenda itu diarahkan untuk mendorong hilirisasi komoditas daerah sehingga potensi lokal tidak berhenti pada produksi, tetapi berkembang menjadi produk yang memiliki identitas, nilai tambah dan daya saing.

“Kita tidak hanya ingin masyarakat mampu menghasilkan produk, tetapi juga mampu mengembangkan, mengemas, melindungi, mempromosikan, dan memasarkannya secara lebih profesional,” kata Gubernur Melki dalam sambutannya.

Lembata dan Flores Timur, kata Gubernur,  memiliki potensi perikanan tangkap yang diperkirakan mencapai Rp70 triliun, dengan produksi sekitar 6.700 – 7.200 ton per tahun. Tuna, tongkol dan cakalang menjadi sejumlah komoditas utama.

Angka tersebut, menurut Gubernur,  menunjukkan besarnya sumber daya ekonomi yang tersedia. Namun, besarnya potensi tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan apabila masyarakat hanya berada pada mata rantai paling awal, menangkap dan menjual bahan mentah.

Karena itu, pelatihan diarahkan pada kemampuan mengubah hasil laut dan komoditas lokal menjadi produk siap pasar. Salah satunya melalui pengolahan ikan menjadi abon, lengkap dengan teknik pengemasan dan pelabelan.

Dengan cara itu, ikan tidak lagi hanya dihitung berdasarkan harga per kilogram sebagai bahan baku, tetapi dapat memiliki nilai baru setelah melalui proses produksi, pengemasan, branding dan pemasaran. Di titik inilah ekonomi kreatif ditempatkan sebagai instrumen hilirisasi.

Pemerintah tidak sekadar ingin menambah jumlah pelaku usaha, tetapi membangun kemampuan usaha agar produk lokal dapat bertahan di pasar yang lebih luas. Tantangannya cukup kompleks, mulai dari keterampilan produksi, akses modal dan pasar, pemanfaatan teknologi digital, legalitas usaha, jejaring kerja sama hingga perlindungan Hak Kekayaan Intelektual.

Di NTT sendiri terdapat 10.803 pelaku ekonomi kreatif yang tersebar di 22 kabupaten/kota. Sektor kriya mendominasi dengan 7.769 pelaku, disusul kuliner 2.389 pelaku dan fesyen 305 pelaku.

Pemerintah Provinsi NTT telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2023 tentang Perlindungan, Pemanfaatan, dan Pengembangan Ekonomi Kreatif serta Ekspresi Budaya Tradisional sebagai salah satu pijakan pengembangan ekosistem ekonomi kreatif daerah.

Karena itu, bimtek di Lembata diarahkan agar peserta tidak berhenti pada kemampuan teknis. Mereka dibekali pola pikir kewirausahaan, branding, pengembangan produk digital, efisiensi keuangan, teknik pengemasan dan pelabelan, hingga pengolahan abon ikan.

Materi juga diarahkan pada pembentukan kelompok usaha berbadan hukum, perluasan pasar digital serta perlindungan produk melalui Merek Kolektif.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah ingin membangun rantai nilai yang lebih panjang di daerah: komoditas diproduksi masyarakat, diolah oleh masyarakat, diberi merek oleh masyarakat, dipasarkan secara profesional, lalu keuntungan ekonominya kembali kepada masyarakat.

Bagi Lembata, agenda ini menjadi penting karena sektor perikanan merupakan bagian strategis dari pengembangan ekonomi daerah. Hilirisasi dapat membuka ruang bagi perempuan dan generasi muda untuk masuk ke dalam mata rantai usaha, bukan hanya sebagai tenaga produksi, tetapi sebagai pemilik dan pengelola usaha.

Gubernur Melki juga menegaskan,  keberhasilan program tidak boleh diukur hanya dari selesainya kegiatan pelatihan. Ukurannya adalah apakah setelah pelatihan muncul produk yang lebih berkualitas, memiliki identitas, memiliki legalitas dan mampu masuk ke pasar yang lebih luas.

“Semoga pelatihan ini menjadi langkah awal lahirnya produk unggulan Lembata yang berkualitas, beridentitas, bernilai tambah, terlindungi, dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Pembukaan kegiatan ini turut dihadiri Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT Godlif Elliek, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Lembata Yakobus Andreas Wuwur, Pimpinan Bank NTT Cabang Lewoleba Petrus Soba Lewat, perwakilan perangkat daerah terkait, serta narasumber dan para peserta. (Lakonawa/Prokompimkablembata)

Tokoh Muda Alor Bawa Petisi ke Istana, Minta Kesehatan Bupati Alor Diperiksa Objektif

Elim Makalmai

JAKARTA, media-ntt.com – Roda pemerintahan Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, dinilai tidak berjalan optimal. Kondisi itu membuat tokoh muda Alor, Elim Makalmai, membawa petisi masyarakat hingga ke Istana Negara di Jakarta.

Elim mendesak pemerintah pusat menurunkan tim dokter independen untuk memeriksa kondisi kesehatan Bupati Alor Iskandar Lakamau secara objektif dan profesional.

Desakan itu muncul karena Bupati Iskandar diketahui mengalami stroke pada Juli 2025 dan sempat dirawat di RS Siloam Kupang serta RSPON Jakarta.

Pasca perawatan, ia disebut belum dapat menjalankan tugas pemerintahan secara penuh, bahkan lebih dari satu tahun tidak menghadiri rapat paripurna DPRD Alor.

“Intinya kita butuh perubahan di Kabupaten Alor. Kondisi Alor hari ini sedang tidak baik-baik saja, terutama dalam hal pemerintahan di bawah kepemimpinan Bupati Iskandar Lakamau dan Wakil Bupati Rocky Winario,” kata Elim seperti dikutip dari akun Facebook Hukrim Rdtv, Selasa (6/10/2026).

Elim menegaskan, petisi tersebut bukan untuk mengambil alih kewenangan pemerintah pusat, melainkan meminta kepastian.

Ia meminta Presiden memastikan dulu kondisi kesehatan bupati melalui pemeriksaan medis sebelum menentukan langkah sesuai peraturan perundang-undangan.

“Kami akan menyampaikan surat dan kawal, harapan kita bersama adalah Bupati Alor bisa bertugas optimal sesuai tupoksinya, namun jika sudah tidak bisa lagi maka dapat mengundurkan diri atau diundurkan, di mana semua itu menjadi kewenangan pemerintah pusat,” ujarnya.

Ia menyebut rekomendasi dokter spesialis saraf agar Bupati Iskandar menjalani terapi lanjutan di RSPON Jakarta hingga kini belum dilaksanakan.

Karena itu, selain ke Presiden, petisi juga akan dilayangkan ke Menteri Dalam Negeri, Mahkamah Agung, dan Komisi II DPR RI sebagai lembaga yang berwenang terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Ia menilai persoalan pemerintahan dan kondisi kesehatan kepala daerah semestinya menjadi perhatian melalui fungsi tugas DPRD.

“Yang kami lakukan ini sebenarnya adalah tugas DPRD Alor, namun karena fungsi pengawasan mereka tidak berjalan sebagaimana mestinya dan patut dikatakan melakukan pembiaran, maka setelah menerima petisi kami sudah tindak lanjuti hari ini kepada pihak terkait,” katanya.

Ia berharap pemeriksaan oleh tim dokter dari pemerintah pusat dapat mengakhiri spekulasi di masyarakat dan memberikan kepastian hukum bagi keberlangsungan pemerintahan di Kabupaten Alor.

“Harapan kita bersama adalah Bupati Alor bisa bertugas optimal sesuai tupoksinya” pungkasnya. (roy)

Gubernur Melki Dorong Calon Kepsek Perkuat Budaya Akademik dan Kewirausahaan Siswa

KUPANG, media-ntt.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mendorong calon kepala sekolah untuk memperkuat budaya akademik, karakter, serta jiwa kewirausahaan peserta didik.

Hal itu disampaikan Gubernur saat membuka Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah SMA/SMK/SLB se-NTT Tahun 2026 di Hotel Pelangi Kupang, Senin (5/10/2026).

Gubernur Melki mengatakan, NTT membutuhkan kepala sekolah yang tidak hanya kuat secara administratif, tetapi mampu membawa perubahan nyata di lingkungan sekolah.

“Kita membutuhkan kepala sekolah yang tidak hanya kuat secara administratif, tetapi mampu membangun budaya akademik yang baik, membentuk karakter peserta didik, dan mendorong mereka menjadi generasi yang produktif serta memiliki jiwa kewirausahaan,” kata Gubernur Melki.

Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang yang mendorong peserta didik berprestasi akademik sekaligus memiliki karakter kuat, kreativitas, kemandirian, dan kemampuan produktif.

Ia menegaskan, keberhasilan siswa ditentukan oleh kualitas guru, dan kualitas guru ditentukan oleh kualitas kepala sekolah. Karena itu kepala sekolah harus menjadi pemimpin pembelajaran.

“Guru harus diberdayakan, peserta didik harus didengar, orang tua harus dilibatkan, dan masyarakat harus dirangkul. Kita ingin sekolah menjadi tempat anak-anak NTT tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, mandiri, dan siap menghadapi masa depan,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar jabatan kepala sekolah tidak dipandang sebagai tujuan, melainkan sebagai kesempatan untuk melayani dan menciptakan perubahan.

“Jangan jadikan jabatan sebagai tujuan, tetapi jadikan kepemimpinan sebagai kesempatan untuk melayani,” tegasnya.

Gubernur juga meminta pola pikir kepemimpinan diubah dari sekadar memberi perintah menjadi berorientasi pada pemecahan masalah.

“Ketika menjadi kepala sekolah, jangan hanya bertanya, Apa yang harus saya perintahkan?, Tetapi bertanyalah, Apa yang dapat saya lakukan agar guru mengajar lebih baik, peserta didik berkembang lebih baik, dan sekolah menjadi lebih baik?” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Ambros Kodo menjelaskan, diklat diikuti 294 orang yang terbagi Tahap I 159 orang dan Tahap II 135 orang dari 22 kabupaten/kota se-NTT.

Untuk Tahap I, rinciannya 94 peserta SMA Negeri, 7 SMA Swasta, 42 SMK Negeri, 5 SMK Swasta, dan 11 SLB Negeri.

Diklat dilaksanakan dua tahap, yakni orientasi dan pelatihan daring melalui Learning Management System (LMS) pada 26 September-2 Oktober 2026, dan pelatihan luring pada 3-12 Oktober 2026 di Hotel Pelangi Kupang.

Saat ini terdapat 1.045 kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB se-NTT, terdiri dari 401 SMA Negeri, 228 SMA Swasta, 184 SMK Negeri, 183 SMK Swasta, 36 SLB Negeri, dan 13 SLB Swasta.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi NTT Teguh Rahayu Slamet, Anggota DPRD Provinsi NTT Winston Rondo, Lili Adoe, Kasimirus Koro, Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Provinsi NTT Alex Lumba, serta Tim Supervisi Direktorat Kepala Sekolah dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen RI Evionora. (roi)

Janggal! Nama Sasando Racing Team Nampang di Piala Bupati Rote Ndao Cup, Ada Apa?

BA’A, medianntt.com – Penyelenggaraan kejuaraan otomotif berlabel Bupati Rote Ndao Cup menyisakan tanda tanya. Meski kegiatan itu membawa nama pemerintah daerah, pada sejumlah piala yang diberikan kepada pemenang justru tercantum nama Sasando Racing Team.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai hubungan antara Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, Sasando Racing Team dan penyelenggaraan Bupati Cup tersebut.

Selain itu, hadiah atau uang pembinaan tersebut disebut menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Rote Ndao melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). Hal itu diperkuat dengan pernyataan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Rote Ndao, Daniel W Nalle, saat dikonfirmasi wartawan melalui pesan WhatsApp Rabu, 7/10/2026.

Ia menjelaskan, pihaknya sudah menyampaikan dalam Technical Meeting (TM) kepada para crosser terkait mekanisme hadiah tersebut.

“Waktu TM saya sudah jelaskan ke para Croser, bahwa hadiah/uang pembinaan untuk 10 kelas lomba ditanggung oleh Pemerintah dalam hal ini Dispora Kab Rote Ndao,” katanya.

Ia juga menjelaskan, proses pembayaran tidak bisa dilakukan secara tunai, akan dilakukan secara transfer menunggu perubahan APBD-P TA. 2026 di Perdakan,

“Karena itu bagi Croser yg juara memasukan nama, nomor rekening dan KTP untuk selanjutx kami transfer, terima ksh,” ujar Daniel.

Menurut dia, hadiah memang ditanggung APBD melalui Dispora dan akan ditransfer setelah APBD Perubahan TA 2026 ditetapkan dalam Perda, dengan para juara diminta mengumpulkan nama, nomor rekening dan KTP.

Namun menjadi pertanyaan publik jika hadiah menjadi tanggung jawab pemerintah, mengapa piala menggunakan identitas klub? Apakah Sasando Racing Team merupakan penyelenggara resmi yang ditunjuk? Jika iya, berdasarkan surat atau kerja sama apa?

Sebagai organisasi yang menaungi olahraga otomotif, Ikatan Motor Indonesia (IMI) Provinsi NTT perlu turun melakukan evaluasi dan meminta penjelasan mengenai penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Evaluasi diperlukan untuk memastikan bahwa setiap kegiatan otomotif yang menggunakan nama pemerintah daerah memiliki dasar penyelenggaraan, struktur kepanitiaan, sumber pembiayaan dan mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.

Pemerintah Kabupaten Rote Ndao melalui Dispora juga perlu memberikan penjelasan lebih rinci mengenai keterlibatan pemerintah dalam kegiatan tersebut, termasuk dasar penggunaan nama Bupati Cup dan bentuk kerja sama dengan Sasando Racing Team sebagai pihak yang namanya tercantum di piala.

Kejelasan tersebut penting agar tidak terjadi persepsi bahwa sebuah kegiatan klub otomatis merupakan kegiatan resmi pemerintah daerah, atau sebaliknya, kegiatan pemerintah daerah menggunakan identitas klub tanpa penjelasan yang memadai. Publik, khususnya para peserta yang telah berkompetisi, kini menunggu jawaban terbuka. (roy)

Bupati Lembata Pastikan Gudang Bawang Siap Jaga Stabilitas Harga

LEWOLEBA, media-ntt.com – Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq meninjau depot penyimpanan bawang merah milik Pemerintah Kabupaten Lembata di kawasan CWC, Wangatoa, Kelurahan Selandoro, Senin (5/10/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan fasilitas penyimpanan berfungsi optimal dan stok bawang merah tetap aman sebelum disalurkan ke pasar, terutama menghadapi potensi kenaikan harga menjelang akhir tahun.

Bupati Kanis Tuaq melihat langsung kondisi gudang, termasuk rak-rak penyimpanan yang telah terisi bawang merah serta sejumlah rak yang masih dalam proses pengerjaan. Ia meminta pengelolaan gudang dilakukan sesuai ketentuan teknis agar sirkulasi udara dan kelembaban tetap terjaga sehingga dapat menekan penyusutan pascapanen.

“Kalau disimpan di tanah saja, panasnya berlebihan dan bisa mempercepat proses penyusutan. Dengan adanya rak-rak ini, sirkulasi udara berjalan lebih baik sehingga bisa menahan laju penyusutan,” kata Bupati Kanis Tuaq.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Ade Hasan Yusuf, mengatakan, kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memastikan kesiapan stok bawang merah untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga di pasar.

Menurutnya, bawang merah dan cabai merupakan dua komoditas pangan yang kerap memberikan tekanan terhadap inflasi. Karena itu, pemerintah tidak hanya menyiapkan stok melalui fasilitas penyimpanan, tetapi juga mendorong produksi dari kebun-kebun petani agar pasokan tersedia ketika kebutuhan pasar meningkat.

“Langkah ini merupakan upaya pemerintah daerah dalam memasok bawang merah ke pasaran untuk menjaga stabilitas harga sehingga tidak terjadi inflasi yang tinggi di daerah,” ujar Ade Hasan.

Ia menjelaskan, fasilitas penyimpanan menggunakan rak untuk menjaga bawang tidak langsung bersentuhan dengan lantai. Sistem tersebut diharapkan memperbaiki sirkulasi udara dan mengurangi risiko kelembaban yang dapat mempercepat kerusakan serta penyusutan bawang.

Di sisi lain, pengelolaan gudang masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan rak dan tenaga kerja. Dinas Pertanian saat ini menyiapkan tambahan tiga rak untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan, sementara tenaga operasional masih didukung dari lingkungan Dinas Pertanian.

“Dari aspek gudang cukup representatif, tetapi rak penyimpanan masih kurang. Kami sedang membuat tiga rak lagi untuk menampung bawang-bawang yang ada,” kata Hasan.

Selain bawang merah, kawasan CWC Wangatoa juga diarahkan menjadi pusat hilirisasi produk pertanian Kabupaten Lembata. Bupati meminta kawasan tersebut ditata sebagai fasilitas yang dapat mendukung pengolahan dan penanganan pascapanen berbagai komoditas, termasuk jagung dan bawang merah.

Untuk jagung, pemerintah daerah merencanakan pembangunan fasilitas pemanasan guna mencapai kadar air sekitar 12 persen serta lantai jemur yang dapat digunakan untuk jagung dan komoditas pertanian lainnya. Fasilitas tersebut selanjutnya diarahkan menjadi bagian dari unit pelaksana teknis (UPT) yang menangani pekerjaan teknis hilirisasi produk pertanian.

Bupati juga mengarahkan agar pembentukan UPT tersebut dapat dipersiapkan pada 2026 sehingga pengelolaan fasilitas dan kegiatan hilirisasi dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.

“Penataan kawasan ini penting karena ke depan bukan hanya bawang merah yang ditangani, tetapi juga jagung dan komoditas pertanian lainnya,” demikian disampaikan dalam kunjungan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Lembata berharap penguatan fasilitas penyimpanan dan hilirisasi dapat memperpanjang daya simpan hasil pertanian, mengurangi kehilangan pascapanen, memperkuat ketersediaan pangan, sekaligus mendukung upaya menjaga stabilitas harga komoditas strategis di pasar.

Langkah ini juga diarahkan memperkuat keterhubungan antara produksi petani, pengelolaan pascapanen, penyimpanan, hingga distribusi ke pasar sehingga hasil pertanian daerah dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. (Lakonawa/Prokompimkablembata)